Apa yang membedakan seorang dari yang lainnya? Pertanyaan reflektif ini terpaksa saya ajukan. Begitu banyak orang bertanya, mengapa saya begini dan mengapa kamu begitu.
Saya ingin memberikan jawaban yang sangat sederhana. Jawabannya ialah mutu umur. Perbedaan satu dari yang lain sesungguhnya pada mutu umur, bukan pada panjang pendeknya umur. Apakah umur yang engkau miliki berguna bagi sesama. Itulah yang membedakan. Bukan yang lain.
STEFANUS, seorang kudus yang menjadi panutanku, berkata: Tuhan, janganlah limpahkan kesalahan ini kepada mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ia memaafkan orang-orang yang berbuat zalim atas dirinya.
Pemberian maaf juga disampaikan Yesus sebelum menghembuskan nafas terakhir. Ia berkata, Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.
Dua contoh itulah yang selalu memotivasi saya mengarungi samudra kehidupan. Saya, setiap malam, berdoa dari buku Puji Syukur. Doa untuk orang yang membeci diriku. Dalam doa itu aku katakan, Tuhan ampunilah mereka yang telah berbuat sayah dan membenciku. Aku, hampir setiap hari, selalu berdoa untuk orang yang telah berbuat salah kepada diriku. Apa pun kesalahan yang dilakukan, aku senantiasa berdoa dan memberikan maaf. Setiap hari pula aku berdoa Bapa Kami yang mengatakan, ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampungi yang bersalah kepada kami.
Artinya, pengampunan terhadap diriku hanya bisa diberikan jika aku pun mengampuni yang bersalah kepadaku. Itulah tekad yang kutanamkan dalam diriku. Tekad itu pula yang bersama aku selama ini dan mudah-mudahan untuk selama-lamanya, amin.
Aku juga berdoa untuk semua orang yang kujanjikan doa. Kusebut satu per satu nama-nama orang yang kujanjikan doa, Kuhadirkan wajah mereka dalam doaku. Semoga Tuhan selalu memberikan berkat dan rahmah atas mereka yang pernah kujanjikan doa.
BELAKANGAN ini aku merasakan kesendirian di dalam kebisingan keseharianku. Lingkunganku lagi terkena polusi gosip yang tidak karuan ujungnya. Semua kepentingan menjadi satu, satu sama lain bermain. Seperti sepakbola, gocekan tak keruan membingungkan kawan dan lawan.
Begitulah. Begitulah yang kualami. Aku mencoba memetakan persoalan dan berusaha memahami kawan-kawanku. Aku bersimpati kepada mereka dan aku mendukung apa yang mereka perjuangkan. Cuma, cara kami berbeda. Aku tetap menempuh caraku dan aku tetap menghormati cara mereka. Biarkan semuanya berujung di sebuah lorong yang sama.
Sunyi, senyap. Aku merasakan kesunyian dan kesenyapan di dalam tawa teman-teman. Sudah hilang semua tulus yang pernah direnda bersama. Ok kawan, jalan kita berbeda. Tapi satu kita sama, sama-sama memperjuangkan apa yang kita rasakan kurang. Dengan demikian, sesungguhnya kita berada di jalan yang sama cuma cara kita berbeda
HARI ini, Sabtu (24/3/07), aku mengantar saudaraku dari kampung ke Pasar Jatinegara. Aku baru pertama kali memasuki kawasan itu. Sungguh, tak pernah kuduga sebelumnya, Pasar Jatinegara begitu ramai. Para penjual dan pembeli melakukan transaksi secara besar-besaran.
Aku tak lama di sana. Kemudian saya berjalan menuju kawasan Slipi, singgah di Slipi Plaza. Setelah menenggak seteguk duateguk kopi rasa madu aku melanjutkan perjalanan menuju kantorku di kawasan Jakarta Barat.
Setiba di kantor, jarum jam panjang menunjuk angka 12 dan jarum jam pendek ada di angka 11. Kantorku masih sepi. Aku hanya duduk dan duduk untuk seterusnya rasa kantuk terus menggoda hingga aku terlelap.
Setelah mengepulkan asap sebatang, aku membuka blogku ini. Kemudian, aku menorehkan tulisan ini sambil sesekali mendengar alunan keroncong dari dalam baju. Ya, cukup sejenak. Sejenak menapak lagi apa yang telah kulalui dalam sepenggal hari. Hari ini.
TIBA-TIBA, aku ditanya apakah pernah merasa kesepian dalam hidup ini. Tanpa berpikir panjang aku menjawab, “Aku tidak pernah merasa kesepian.”
Jawabanku itu, pada detik-detik selanjutnya, selalu mampir dalam kalbu. Benarkah jawaban yang sudah kuucapkan?
Aku berpikir dan berpikir lagi. Malam menjelang subuh, aku membetulkan dudukku di lantai beralas karpet. Aku bersemedi–seperti biasanya kulakukan pada hari-hari sebelumnya. Dalam keheningan itu aku merenungkan apa saja yang sudah kuperbuat sepanjang 24 jam sebelumnya, kepada siapa saja aku telah berbuat salah sambil memohon pengampunan sekaligus mencoba mengampuni yang telah berbuat salah. “Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampungi kesalahan orang yang telah berbuat salah kepada kami” Penggalan kalimat itu terus menerus kuucapkan.
Di penghujung detik setelah satu jam berlalu, tiba-tiba mulut berkomat kamit mengucapkan, “Ya, saya tidak pernah merasa kesepian karena Dia selalu menyertaiku dalam cintanya.”
Sebelum aku beranjak, aku menghadirkan sosok teman yang telah mengajukan pertanyaan itu. Sambil membayangkan sosoknya, aku berdoa kepada Tuhanku. Aku berkata, “Tuhan, aku berterima kasih karena Engkau telah memberi aku seorang teman yang begitu baik. Ia baik tidak hanya dalam kesenangannya tapi juga dalam kemalangannya. Aku berterima kasih, karena Engkau telah menghadiahkan kepadaku seorang teman yang selalu berbagi pengalaman. Berkatilah dia selalu, sertailah dia dalam langkahnya, jadikanlah dia kebanggaan bagi keluarganya.”
Setelah doa kuucapkan, aku membayangkan wajah temanku terseyum. Lesung pipinya tampak jelas pertanda ia selalu dalam keadaan baik dan dalam lindungan Yang Kuasa.
Memang, harus kuakui, sosok temanku itu senantiasa hadir atau dihadirkan dalam kesendirianku. Sosoknya pun menjadi semangatku. Terima kasih teman. Engkau mengajarkan aku untuk selalu terbuka dan berbuat baik sekali pun, seperti katamu, memandang wajahmu pun aku tak kuasa.
Selamat apa saja buat Anda. Sudah lama saya tidak mengisi ruang ini. Aku hanya mau menyapa siapa saja yang membaca saat ini. Selamat. Sukses selalu menyertai Anda.
Hidup, sesungguhnya, hanyalah sebuah dinamika. Ada kalanya sadar bahwa kita ini masih hidup justru pada saat-saat menghadapi situasi genting. Sama saja kita menyadari sehat itu penting pada saat menghadapi sakit.
Itulah dinamika hidup yang selalu mewarnai keseharian saya dan Anda. karena kita sadar masih hidup, saya pun mengucapkan selamat mengarungi hidup ini
ADAKAH yang namanya takdir? Takdir mengandaikan jalan hidup sudah digariskan. Seperti rel kereta api. Keluar dari rel berarti kecelakaan. Itulah pengandaian takdir.
Sesungguhnya, takdir itu ungkapan keputusasaan. Putus asa atas nasib. Setelah tidak mampu lagi mengubah hidup, kata takdir dipakai sebagai pembenaran. Membenarkan apa yang tidak mampu engkau lakukan. Membenarkan ketidakmampuan. Setiap kali takdir diucap, setiap kali itu pula kita membatasi kemampuan diri.
Kemampuan yang ada dalam diri kita mestinya melebihi magma yang ada dalam perut bumi. Bukankah gunung sekalipun bisa engkau pindahkan dalam nama Dia? Itu berarti, kemampuan yang ada dalam diri kita jauh melebihi apa yang telah engkau lakukan. Tinggal bagaimana kita mengasah kemampuan untuk melipatgandakan kekuatan yang ada dalam diri.
Dengan demikian, sesungguhnya, engkau sendiri yang menentukan nasibmu. Engkau sendiri yang menggoreskan takdir, sebab engkau kan yang membangun rel kehidupan.
Aku sendiri mencoba untuk tidak mempercayai takdir. Aku percaya, dalam Dia, aku bisa melakukan apa saja. Ya, apa saja bisa kulakukan asalkan berkenan dengan kehendakNya.
BANGSA ini sesungguhnya memiliki banyak orang pintar. Tapi, kita selalu merasa kekurangan sosok manusia yang peka dan arif dalam menyikapi masalah besar yang datang silih berganti. Tidaklah heran, Indonesia masih saja berkubang dalam krisis.
Tiba saatnya Indonesia bangkit. Bangsa ini harus menjadikan momentum Idul Fitri untuk bangkit dari krisis. Meraih masa depan penuh optimitis. Tapi, kecerdasan otak semata sudah tidak memadai lagi untuk membangun negeri ini. Perlu dilengkapi kecerdasan rohani yang seharusnya lahir antara lain dari praktik berpuasa.
Rasa lapar dan dahaga selama satu bulan, kata mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah Syafi Maarif, semestinya membangunkan kepekaan batin akan tanggung jawab kolektif untuk memperbaiki keadaan yang terlanjur rusak. Itulah makna Idul Fitri sesungguhnya.
Kepekaan batin itu yang kian jauh dari para pemimpin. Mereka masih senang mengejar kekuasaan dan menumpuk harta. Tidaklah heran, negeri ini masuk dalam kategori paling korup di dunia, tapi sedikit koruptor menghuni penjara. Negeri ini banyak utang tapi para pejabat masih hidup dalam kemewahan, mobil mewah juga berseliweran di jalanan.
Para politisi juga tidak peka. Mereka lebih gemar memperjuangkan diri sendiri daripada membela kepentingan rakyat. Anggota DPR pun menerima uang penyerapan aspirasi rakyat sebagai kompensasi mendatangi konstituen. Semestinya, kewajiban anggota dewan ialah menampung dan menyalurkan aspirasi pemilihnya. Malah terbalik. Negara memberi uang kepada anggota dewan agar mereka mendatangi daerah pemilihan.
Kemunafikan masih membalut tubuh para politisi di negeri ini. Anggota DPR membagi-bagikan voucer pendidikan biar tampak dermawan. Padahal, dana voucer itu berasal dari hasil peras keringat rakyat yang membayar pajak.
Seharusnya, kemampuan menahan rasa lapar dan dahaga sebulan penuh itu justru mendorong segenap anak bangsa untuk lebih berproduktif lagi. Idul Fitri sejatinya menjadi momentum untuk hidup lebih baik lagi selama 11 bulan berikutnya. Idul Fitri harus mampu memanusiakan kemanusiaan kita. Mampu membangkitkan rasa empati dan simpati terhadap sesama anak negeri ini.
Persaudaraan dalam wujud jabat tangan dan ucapan selamat hari raya dari dan kepada orang lain, sekalipun berbeda keyakinan, mestinya menumbuhkan tenggang rasa. Sikap tenggang rasa itu ibarat konduktor dalam sebuah simponi orkestra. Ia mampu menyelaraskan bunyi yang berbeda sehingga enak didengar. Semangat bermaaf-maafan itu mestinya lestari dalam keseharian. Tidak dibatasi ruang dan waktu.
JUTAAN orang rela merogoh kocek. Mereka berdesak-desakan dalam angkutan massal dan bermacet ria hingga ribuan kilometer. Tujuannya cuma satu. Kembali ke tanah kelahiran dan bertemu sanak saudara.
Mudik. Asal katanya udik, diambil dari bahasa Betawi. Artinya, orang ndeso. Orang kampung. Jutaan orang pulang kampung saat Lebaran, sudah menjadi ritual tahunan di negeri ini. Jadi tradisi–yang untuk sebagian orang– irasional. Tidak masuk akal. Orang kok mau mempertaruhkan nyawa hanya untuk bertemu sanak keluarga.
Mudik menajdi fenomena sosial. Dari hari ke hari orang-orang udik yang mengadu nasib di Ibu Kota mengumpulkan receh. Setelah menggunung, uang itu dipakai mudik. Uang itu dibagi-bagikan kepada saudara di kampung. Setelah kembali dari kampung, kaum udik itu kembali mengumpulkan receh. Keseharian hidup mereka justru kembang-kempis. Mati segan hidup enggan.
Itulah fenomena mudik yang hanya ada di negeri ini. Negeri miskin yang selalu menampakkan diri kaya.
KESUNYIAN mulai merambat relung sanubari. Perlahan tapi pasti. Tiba-tiba aku menangkap sosok bayanganmu. Bayangan yang selama ini kupenjarakan dalam benak. Lalu, aku menjelajah seluruh alam awang-awang.
Aku membayangkan bayangan itu mulai tercabut dari realitasnya. Ia tidak lagi digenggam oleh orang yang mendominasi hidupnya. Ia mulai menjaga jarak dengan penjaga kesehariannya. Ia sudah menjadi orang lain bagi sang penjaga sekalipun tetap berada dalam satu lingkup kehidupan.
Inilah realitas. Sosok bayangan itu bebas mencari jati dirinya. Bebas berterbangan ke mana ia mau. Bebas pula untuk tidak bersatu dengan sang penjaga kehidupannya. Begitulah. Siapa pun pasti memberontak jika didominasi. Begitulah. Siapa pun pasti meronta jika dikekang. Cercaan, hinaan, caci maki sudah keyang ditelan sang sosok bayangan.
Aku tidak mau aji mumpung. Aku selalu berkata, kembalilah ke realitas. Sang penjaga sangat mencintaimu. Dari tutur kata kala aku bertemu, dari sorot mata kala aku berpapas, sang penjaga ingin mengatakan ia masih mencintaimu. Cukup, aku tak mau masuk terlalu dalam. Aku tak mau mempengaruhimu. Aku percaya, sepenuhnya percaya, sosok bayangan itu bisa mengambil keputusan. Keputusan yang terbaik dalam hidupnya karena ia yang menjalani ziarah kehidupan. Aku tak berhak menggurui apalagi mempengaruhi. Tidak.
Hai sang bayang, sekalipun sekadar bayangan, membayangani bayangan bagi saya tetaplah indah. Sangat indah sampai-sampai tak ada untaian kata yang bisa mewakilinya. Tidak cukup huruf untuk disatukan sehingga bisa mewakili perasaan. Aku, aku jatuh cinta pada bayangan itu. Sekalipun mencintai, aku tetap tak bisa memiliki. Izinkan aku mencintai bayanganmu tanpa harus memiliki. Kesempatan untuk memiliki sudah lewat, tapi sampai kapan pun, kesempatan untuk mencintai selalu ada.
Aku pun terus menerawang. Aku teringat lagi kata-kata para bijak. Mencintai tidak berarti memiliki. Ketika syawat memiliki mendominasi hidup, sesungguhnya cinta sudah lepas dari geganggam. Mencintai berarti menerima apa adanya tentang orang yang dicintai. Sekali memiliki, itulah waktunya cinta sudah tidak ada lagi. Itulah pembenaran mengapa aku mencintai bayanganmu karena cintaku tulus sepanjang hayat. Aku mencintaimu bukan untuk memintaimu mencintai aku. Pepatah Latin mengatakan do ut des. Aku memberi supaya engkau memberi. Bukan.
